Subuh.
Memandang titik-titik terang lampu kota dari kaki gunung.
Meresap sepi.
Yang manakah kerlapmu?
Tidakkah rindu itu absurd?
Berarti ‘memiliki keinginan yang kuat untuk bertemu’, katanya.
Tapi, kadang, bertemu dengan orang yang dirindukan pun tidak menjadikan keinginan itu berkurang.
Seperti tidak ada habisnya perselisihan antara keinginan yang kuat untuk bertemu dan kemustahilan untuk menemukan pemenuhan keinginan tersebut.
Seperti ketagihan.
Terus menerus ingin.
Ingin bertemu.
Menghirup jejakmu
yang tertinggal. Sengaja tidak sengaja.
Maka, saya mengijinkan waktu menjadi teman yang merambat perlahan.
Larut. Pelan. Pelan. Konstan.
Melaju. Pasti. Menuju potongan waktu yang dapat kita bagi bersama.
Lagi.
Meski masih nanti.
Tidak ada janji.
Tidak ada yang pasti.
Hanya ada
saya
kamu
dan semua yang tersembunyi di antaranya.