that merry little Christmas :-)

Dipikir-pikir,

apa ya perasaan Bunda Maria dulu waktu diajak Bapak Yosef pulang kampung ke Betlehem?

Bayangin deh,

dari Nazareth ke Betlehem itu denger-denger harus menempuh jarak kurang lebih 150 km.

Karena waktu itu belum ada bus, sudah jelas Bunda Maria dan Bapak Yosef jalan kakiJalan kaki!

Hm, kemarin teman-teman yang pilgrimasi jalan kaki Loyola-Navarette setiap harinya rata-rata jalan 20km. Jadi, kurang lebih dulu Bunda Maria dan Bapak Yosef jalan kaki semingguan dong yah. Ya, Bunda Maria-nya naik keledai sih. Tapi, naik keledainya juga gak bisa kayak Zorro kan naiknya. Lagi hamil tua, bok.

 

Ya ampun,

kalo sampe saya punya suami yang ngajak saya pulang kampung model begitu,

bukan surat cerai yang melayang, tapi mata sinetron pasti saya pasang. *JENG*JENG*

 

Kebayang gak sih, perjalanan itu kayak apa sulitnya?

Jauh,

jalannya gak mulus (denger-denger pilihannya itu naik turun Gunung Karmel atau muter lewat pinggiran Sungai Yordan),

dalam keadaan hamil tua pulak. Naik pesawat ajah trimester ketiga udah dilarang-larang.

Ini jalan kaki. Kalo temen saya yang prom queen SMAK1 itu pasti bilang, “Udah gila kali.”

 

Gila memang.

Tapi, buat saya kebayang juga perasaan-perasaan dan pengalaman-pengalaman yang menguatkan Bunda Maria dan Bapak Yosef.

Sebagai seorang yang mencintai perjalanan,

saya paham betul bahwa kita dapat benar-benar mengenal seseorang dengan bepergian bersama.

Kita juga bisa tahu seberapa jauh kita kompatibel sama mereka. Orang saya sampe punya cita-cita, kalau nanti punya calon suami harus dites dulu keliling Indonesia :P

Ada banyak hal yang bisa kita bagi dengan teman seperjalanan kita.

Buat Bunda Maria dan Santo Yosef dulu,

mungkin bukan cuma berbagi semangat atau suap-suapan bekal,

tapi juga berbagi harapan yang sama, yaitu kelahiran anak pertama mereka.

 

It warms my heart to think they both sat beside the fire and laid on their backs somewhere in the Jordanian wilderness, staring at the sky and talked about how their life would change once the baby is born.

 

Bukan sembarang anak bahkan. Yesus, man.

Betapapun keberadaan Yesus sebagai juru selamat dunia diperdebatkan, sulit untuk meragukan bahwa Yesus adalah pribadi yang luar biasa hebat. This man told you (and did it Himself) to love your enemy. Like.. Um… That’s hard.

 

Udah gitu,

sampai di Betlehem permasalahan belum selesai. Gak dapat penginapan!

Brekele. Masih untung dapat ijin berlindung di sebuah kandang ternak.

 

Nah,

kalau selama beberapa minggu persiapan Natal ini

saya dan atau kamu merasa terjebak dalam permasalahan yang gak ada habisnya,

tersedak pahitnya hidup,

kerjaan yang terus menerus ditumpuk di meja kerja,

kegagalan yang mengambang,

penderitaan yang bikin mata bengkak karena nangis,

drama hubungan yang serba gak jelas,

 

saya cuma bisa bilang, “Ya iya lah! Siapa bilang perjalanan menuju Natal itu sudah pasti senang-senang. Dari jaman kelahiran Yesus beneran masih dalam penantian ajah, Bunda Maria sama Bapak Yosef udah ‘berakit-rakit ke hulu, bersenang-senang kemudian’.”

 

Dan saya jadi kepikiran, apakah sepanjang persiapan Natal ini saya sudah bersyukur atas hal-hal manis yang ada?

Bersyukur untuk sahabat-sahabat dan keluarga yang menjadi teman berbagi kesulitan, seperti halnya saat itu Bunda Maria dan Bapak Yosef berterima kasih untuk kehadiran satu sama lain;

atau

bersyukur untuk setiap kebaikan hati yang saya terima dari orang lain, seperti halnya waktu itu Bapak Yosef dan Bunda Maria lega mendapat pinjaman kandang ternak untuk istirahat.

 

Bersyukur karena, entah apa dan bagaimana bentuknya, saya masih bisa merayakan Natal,

seperti halnya Bunda Maria dan Bapak Yosef dulu bisa tetap berbahagia luar biasa menyambut kelahiran Yesus. Meski harus jauh-jauh ke Betlehem, capek-capek, dan ribet banget. Mungkin juga gak berjalan sesuai rencana mereka, sesuai mau mereka (ya gimana ya, dari awal mengandung dan melahirkan Yesus itu bukan rencana mereka, tapi lebih karena rencana Yang Di Atas kan).

 

Jadi,

dalam rangka bersyukur atas semua yang terjadi sampai pada hari ini,

saya ingin mengucapkan dengan tulus hati,

tanpa pretensi dan di luar agenda ceramah,

 

“Selamat merayakan masa yang bikin senyum-senyum.

Selamat makan enak *bagi dooooong*,

Selamat berbagi waktu dengan orang-orang yang dikasihi,

Selamat belanja diskon akhir tahun yang ciamik,

Selamat buat yang dapet topik buat sms gebetan,

Selamat menggali makna Natal yang mendalam,

Selamat membuka hati untuk melihat keajaiban Natal yang sudah kita terima,

Selamat merayakan ulang tahun Tuhan Yesus!”

 

And I hope this doesn’t sound cliche :

please do have yourself a merry little Christmas. :-)

 

 

 

Peluk hangat,

 

Melita.

P.S Tuhan berkati. :) :) :) :) :)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2 thoughts on “that merry little Christmas :-)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s