Tentang Perempuan

2009 November 10
tags:
by Melita Tarisa

Kebebasan menentukan pilihan adalah prinsip utama dalam bangun ideal emansipasi perempuan milik saya pribadi. Secara spesifik, prinsip tersebut saya maksudkan begini : perempuan, sebagaimana halnya pria, selayaknya mempunyai kebebasan untuk menentukan pilihan-pilihan hidupnya. Baiknya, perempuan tidak hanya menjadi bentuk “degradasi laki-laki” yang dianggap tidak mampu membuat keputusan untuk menentukan pilihannya, entah karena dinilai terlalu emosional atau tidak rasional. Cermati saja petikan kalimat berikut ini.

[A few years from now, your sole responsibility will be taking care of your husband and children. You may all be here for an easy A, but the grade that matters the most is the grade he gives you.]

Sementara pria dimanjakan oleh ragam pilihan hidup, hingga awal abad 18, peran utama yang ditegaskan oleh masyarakat kepada perempuan adalah sebagai istri dari seorang pria. Jane Austen (1775-1817) mengangkat permasalahan ini lewat tokoh-tokoh perempuan dalam novelnya. Elizabeth Bennet dalam Pride and Prejudice, Emma Watson dalam Emma, serta Elinor dan Marianne Dashwood dalam Sense and Sensibility memberikan gambaraan permasalahan yang utama, kalau bukan satu-satunya, perempuan saat itu : menemukan laki-laki yang tepat untuk membangun pernikahan yang ideal, di mana bobot ketepatan dan ideal digantungkan pada status kebangsawanan dan finansial.

Menurut saya, Austen dengan jeli menyelipkan mimpinya akan kebebasan perempuan dengan mempromosikan cinta sebagai nilai dasar sebuah pernikahan, alih-alih status kebangsawanan dan finansial, dalam tulisannya. Harapnya, perempuan menyadari bahwa menikah adalah sebuah pilihan. Lebih indah dengan hadirnya cinta, lebih bahagia bila itu adalah sebuah pilihan bebas.

Bukankah memang soal kebebasan menentukan pilihan ini yang berulang kali diteriakkan oleh perempuan-perempuan revolusioner kepada dunia? Perjuangan perempuan Amerika di pertengahan abad 18 untuk memperoleh hak suara dalam politik di dunianya menunjukkan keinginan perempuan untuk dilibatkan dalam pengambilan keputusan yang menyangkut hidupnya pula. RA Kartini, disela menjalankan peran sebagai seorang istri dan (meski hanya untuk sebentar) ibu, menyadari bahwa perempuan juga mempunyai hak, kebebasan untuk memperoleh pendidikan yang layak. Menyadari hal tersebut, ia mengambil kesempatan pendidikan yang dipunyainya dan menciptakan kesempatan yang sama bagi perempuan lainnya : memperjuangkan hak perempuan untuk mendapat pendidikan. Dengan menyadari bahwa kebebasan adalah modal yang dipunyainya, perempuan dapat melihat lebih luas lagi mengenai kesempatan yang tersedia untuknya. Ia dapat menyelami peluang-peluang yang ada, yang tak jarang ia ciptakan sendiri. Bukan semata karena ia harus bebas dari stigma sosial yang ada, melainkan karena itulah tugasnya sebagai manusia!

Sekarang ini, menjadi seorang istri dan ibu memang sudah tidak lagi menjadi pilihan yang wajib diambil oleh setiap perempuan. Perempuan dengan gagahnya telah meruntuhkan sebagian besar tembok kaca yang menghalangi mereka untuk menentukan pilihan hidup mereka sendiri dan berkontribusi pada dunia. Konsekuensinya, perempuan dan dunia harus siap untuk menghargai ragam bentuk pilihan yang digenggam oleh perempuan. Tanpa melecehkan, tanpa merendahkan.

[“Do you think I’ll wake up one morning and regret not being a lawyer?”
“Yes, I’m afraid that you will.”
“Not as much as I’ll regret not having a family, not being there to raise them. I know exactly what I’m doing and it doesn’t make me any less smart. This must seem terrible to you.”
“I didn’t say that. I-“
“Sure you did. You always do. You stand in class and tell us to look beyond the image, but you don’t. To you a housewife is someone who sold her soul to her central hall colonial. She has no depth, no intellect, no interests. You’re the one who said I can do anything I wanted. This is what I want.”]

Saya menantikan hari di mana emansipasi perempuan sungguh terwujud, seperti yang dimimpikan perempuan-perempuan masa lalu yang terkungkung praktik patriarkhi, seperti yang selalu diperjuangkan perempuan-perempuan di pelbagai belahan dunia. Untuk itu, sambil menunggu hari itu tiba, saya akan senantiasa menggunakan kebebasan saya untuk menentukan pilihan hidup saya sendiri. (Gandhi pernah berpesan, ‘Jadilah perubahan yang ingin kau lihat pada dunia’)

Bagaimana dengan Anda? :’)

*semua kutipan dialog dikutip dari salah satu film favorit saya Mona Lisa Smile

it’s not yet midday.

2009 November 10
by Melita Tarisa

i feel like somebody has just belittled my existence and
all of a sudden i feel so numb and powerless

it’s like every self-respecting details i have for myself
was shattered into pieces and i can’t even do anything about it.
i can’t even say anything nor can i think of anything to say to that! even now.

oh shoot.
what am i supposed to do now.

random things.

2009 November 9
by Melita Tarisa

Saya itu…

1. tidak punya kapasitas emosional yang memadai untuk menghadapi seorang pengeluh. orang mengeluh.. itu saya bisa terima. tapi seorang pengeluh.. wah, siap-siap untuk dapat reaksi tidak bersahabat dari saya!

2. tidak punya kemampuan melakukan multitasking yang berkembang dengan baik. saya tidak bisa diganggu saat sedang melakukan suatu hal atau hal tersebut akan berakhir ‘aneh’. salah ketik saat kirim sms (hingga sms itu jadi ngaco banget!) adalah contoh yang sangat baik (baca : sering terjadi).

3. sangat mudah terdistraksi/ berpindah perhatian. mungkin ini yang menyebabkan masalah nomor 2 hehe. teman-teman saya sering protes kalau saya sering tiba-tiba nyelonong pergi kalau sedang ngobrol. atau tiba-tiba nyeletuk hal yang tidak berkaitan dengan topik saat itu sama sekali. atau tiba-tiba tatapan saya kosong. itu artinya, ada hal lain yang menarik perhatian saya! tapi…

4. (saya itu) sekaligus tidak mudah diganggu kalau sedang berkonsentrasi penuh. kalau saya sedang membaca misalnya. dalam suasana seberisik apapun, saya tidak akan merasa terganggu. bahkan, untuk hal yang satu ini, saya mampu melakukannya sambil berjalan di tempat-tempat yang saya kenali. dan saya sebenarnya sering tidak rela kalau acara membaca saya terganggu.

5. tidak suka bunyi telepon! makanya nada dering handphone saya pasang di “vibrate only”. andai telepon rumah bisa begitu hehehe.

6. sangat peka terhadap “ketegangan”. saya tidak suka cari masalah. saya tidak suka orang bertengkar. saya tidak suka orang bersitegang. saya tidak suka orang marah. tepatnya, saya takut dan malas berhadapan dengan pertikaian dan konflik.

7. suka cowok berkacamata. entah kenapa, cowok berkacamata itu terlihat sangat menarik. apalagi kalau saya liat dia membaca. wah wah wah.

8. sangat menikmati kesendirian. ini alasan utama saya senang begadang. bangun saat orang tidur, tidur saat orang bangun. ada sesuatu tentang keheningan dan kesendirian yang begitu nyaman sekaligus membangun antusiasme saya.

9. sering dibilang ‘bawel’. iyah, saya memang bisa bicara panjang lebar kalau sudah diajak bicara. saya senang berbagi pendapat dengan orang lain. tidak ada yang lebih mengasyikkan daripada menikmati keakraban proses pertukaran pikiran antar dua atau lebih manusia.

10. tidak yakin daftar yang saya buat ini sepenuhnya benar. coba saja buktikan sendiri!

:)

kamu.

2009 November 5
by Melita Tarisa

wajah cantik di bawah sinar purnama
maukah kau datang lagi menemaniku sampai pagi
sampai nanti bulan berganti rupa?

pada suatu malam.

2009 November 3
by Melita Tarisa

Dia mengingatkan saya pada seseorang di masa lalu. Bicara dengannya menghadirkan banyak ulasan kenangan. Dalam sekejap semuanya mengerjap kembali ke permukaan. Waktu-waktu dalam kotak kaca ditemani wangi buku, pembicaraan di pelukan hujan dan asap rokok,…

Sungguh, ini tidak adil!
Hanya saya yang merasa seperti ini,
merindu seperti ini,
dan begitu bahagia menyimpan asa seperti ini.

Saya tidak egois. Saya ingin berbagi rasa ini dengannya.

getting really personal.

2009 November 1
by Melita Tarisa

1. One prominent sign i am on my way to my monthly period :

cry for almost anything.

2. One very reliable and valid way to indicate the sign :

ask me to watch a movie, count how many times i cry and seek the reasons why i do so

If consider yourself to know me quite well, you can really tell i’m having my pms by comparing you results of observation to statement number 2 over time.

malam minggu.

2009 October 31
by Melita Tarisa

selalu ada sesuatu tentang persahabatan yang menghangatkan hati
dan tidak ada yang mengalahkan kelegaan bertemu sahabat lama dan menyadari persahabatan itu masih ada.

and friendship moments after midnight is a keeper! *inside jokes*

berbagi mimpi dengan surat-surat kartini

2009 October 31
by Melita Tarisa

saya memang seorang pemimpi
dan saya menikmati terlelap dalam mimpi yang mengijinkan hati dan pikir saya berkelana.
kebebasan berpikir adalah keistimewaan manusia,
bahkan tanpa harus tersalur dalam kata-kata. maka ia bermimpi.

menjadi seorang pemimpi butuh keberanian besar,
tak jarang tiada habisnya harus berani patah hati.
entah kapan saya mulai bermimpi tentang masa depan perempuan dan pendidikan.
entah kapan pula saya pertama kali patah hati. mimpi itu saya gantung terlalu tinggi, mungkin.

tapi bermimpi hampir selalu berarti berharap.
dan harapan adalah kekuatan manusia yang pertama dan utama.
dan harapan membuat mata manusia menyala indah dan cerah,
seperti cara anak kecil menatap mainan barunya. polos dan tanpa ragu.

maka selayaknya saya akan tetap seperti ini. bermimpi.
bermimpi tentang suatu jaman baru untuk perempuan dan umat manusia.
bermimpi tentang pendidikan dan pengetahuan.
merekalah yang membuat saya bertahan sampai sekarang.

saya ingin sekali sampai ke ujung jalan itu, di mana setiap mimpi yang baik adanya menjadi nyata. utopia itu.
saya sedang berjalan ke sana. langkah saya pelan dan setiap luka patah hati semakin membuat saya lambat.
tapi saya tidak pernah mulai naik gunung, lalu berhenti di tengah jalan.
saya akan terus. seberapapun jauhnya. seberapapun semunya.

saya akan menjadi “gadis modern” itu*,

seorang yang berani, yang dapat berdiri sendiri, yang menarik hati saya sepenuhnya, yang menempuh jalan hidupnya dengan langkah cepat, tegap, riang, dan gembira, penuh semangat dan keasyikan;

gadis yang selalu bekerja tidak hanya untuk kepentingan dan kebahagiaan dirinya sendiri saja, tetapi juga berjuang untuk masyarakat luas, bekerja demi kebahagiaan sesama manusia.”

saya akan tetap membiarkan “hati saya menyala-nyala karena semangat yang menggelora akan jaman baru”.

How absurd men are! They never use the liberties they have, they demand those they do not have. They have freedom of thought, they demand freedom of speech. —Kierkegaard

* rumusan Kartini dalam buku “Surat-Surat Kartini” terjemahan Sulastrin Sutrisno. bagian yang tidak akan saya pernah saya lupakan. Kartini pun bermimpi.

the porcupine and me.

2009 October 19
by Melita Tarisa

i accept the idea of the hedgehog or porcupine dilemma in the case of human intimacy. but while the porcupine mainly felt physical pains in terms of (also) physical intimacy, humans are worse : we get intimate romantically letting our hearts to be broken. oh, i’m not a fool. having your heart broken is not pretty.

but you know, they say love is for the lucky and the brave.

so being heart broken may just a phase-if not a required step, to actually love. especially when you mind the lyrics from the song The Rose ,

“It’s the heart afraid of breaking, that never learns to dance.”

well,

i don’t know about being lucky,

but i’m pretty sure, right now i’m the frightened porcupine in the corner who’s not yet ready to join the dance.

tulis saja semua.

2009 October 17
by Melita Tarisa

Tulislah sesuatu tentang kita.

Anak-anak yang tertawa tanpa suara sambil mengejar kupu-kupu

dan mereka yang tertidur dalam riuh kota ini,

jejak kehidupan yang dipaparkan seadanya.


ditulis 24 Oktober 2008 tanpa judul