floating thoughts.
Pada masa-masa seperti ini,
saya merasa tidak mampu berpikir.
Seperti tidak ada yang dapat ditulis selain perasaan tidak mampu.
Waktu tidak mengijinkan saya untuk mengintip lebih jauh dari lima belas menit ke depan.
Biasanya pun tidak, tapi imajinasiku selalu mampu menembus batas-batasnya.
Kali ini tidak.
Bukan gelap,
hanya saja semuanya kabur. Dan saya tidak lagi tahu apa yang menunggu saya di sana.
Pun buatku sebenarnya tidak apa-apa.
Saya cukup bahagia di sini dan sadar pula hal ini pun punya sedikit nilai kebenaran.
Meski bukan nilaiku. Siapa yang pegang kuncinya?
Tapi, hati saya telah lebih dulu berkelana dan tidak ingin kembali.
Udara kota sudah terlalu lama mencekatnya,
pelan-pelan terasa mencekik. Tidak sanggup lagi rasanya berlama-lama.
Mendung sudah.
raindrops #4
rinduku seperti air yang menggenang di pinggir jalan
tak mampu beranjak dari tempatnya berbaring
dan kamu
bisa jadi anak kecil yang bermain-main denganku,
menari-nari menikmati riak-riak yang terbentuk saat kamu melompat ke sana kemari,
lalu beranjak lagi.
atau mungkin kamu
seperti pejalan kaki dewasa yang menolak untuk mendekatiku,
seakan jijik atau hanya malas bila kutinggalkan jejak pada alas kakimu,
meski hanya setitik.
ya,
rinduku seperti air yang menggenang di pinggir jalan
dan kuharap kamu datang seperti matahari yang sabar menghangatkan
hingga seluruh molekul cair mampu lepas mengudara. kepadamu.
raindrops #3
Saya menemukan kedamaian dalam suatu kesederhanaan,
yang terbagi dalam cerita.
Lewat matamu,
caramu tertawa (ah, langsung terbayang),
gayamu bertutur,
beberapa kata yang kadang hanya bisa kau gumamkan,
kata yang kau ucapkan dengan bangga,
kamu dan pemikiranmu.
“Buat saya itu gak apa.
Asalkan masih bisa kami bicara tentang hal-hal yang penting bagi kami.
Tentang perjuangan-perjuangan kami,
nilai-nilai hidup,
soal ideologi,
masalah-masalah sosial yang meresahkan kami.Itu sudah.
Tidak ada yang mendesak perlu ditambahkan ke dalamnya.Hal-hal seperti perasaan
atau
semisal bagaimana kami harus bersikap tentang orang-orang lain yang menghampiri hidup kami,
itu adalah pergulatan masing-masing.”
Karena,
betul. Itu sudah.
“When I say, “I love you,” it’s not because I want you or because I can’t have you. It has nothing to do with me. I love what you are, what you do, how you try. I’ve seen you kindness and your strength. I’ve seen the best and the worst of you. And I understand with perfect clarity exactly what you are. You’re one hell of a person (Spike to Buffy, with alterations)“
raindrops #2
Subuh.
Memandang titik-titik terang lampu kota dari kaki gunung.
Meresap sepi.
Yang manakah kerlapmu?
Tidakkah rindu itu absurd?
Berarti ‘memiliki keinginan yang kuat untuk bertemu’, katanya.
Tapi, kadang, bertemu dengan orang yang dirindukan pun tidak menjadikan keinginan itu berkurang.
Seperti tidak ada habisnya perselisihan antara keinginan yang kuat untuk bertemu dan kemustahilan untuk menemukan pemenuhan keinginan tersebut.
Seperti ketagihan.
Terus menerus ingin.
Ingin bertemu.
Menghirup jejakmu
yang tertinggal. Sengaja tidak sengaja.
Maka, saya mengijinkan waktu menjadi teman yang merambat perlahan.
Larut. Pelan. Pelan. Konstan.
Melaju. Pasti. Menuju potongan waktu yang dapat kita bagi bersama.
Lagi.
Meski masih nanti.
Tidak ada janji.
Tidak ada yang pasti.
Hanya ada
saya
kamu
dan semua yang tersembunyi di antaranya.
raindrops #1
dalam berbagai cara,
saya percaya ada Dia yang dapat menelisik sudut paling terpencil di dunia ini dengan teliti.
dan saya yakin, bersembunyi pun, berkatNya untukmu tidak akan terselip.
saya tahu,
tanpa doa saya pun,
kamu bisa jadi sudah merupakan makhluk favoritNya (maka dengan sendirinya Dia akan melindungimu)
tapi,
seperti yang sudah-sudah,
meski tidak signifikan juga tanpa urgensi yang jelas,
hati saya selalu mendoakanmu
dalam berbagai cara
tidak hanya agar kamu selamat,
tapi juga bahagia.
dan saya paham
mungkin juga ini jalan satu arah.
Maka, mari bersiap saja seandainya sepanjang jalan ini saya tidak menemukan adanya putaran balik.
Orang yang mencintai menanggung risiko lebih besar, dan sering harus membayar harga yang lebih tinggi – Susanna Tamaro
that merry little Christmas :-)
Dipikir-pikir,
apa ya perasaan Bunda Maria dulu waktu diajak Bapak Yosef pulang kampung ke Betlehem?
Bayangin deh,
dari Nazareth ke Betlehem itu denger-denger harus menempuh jarak kurang lebih 150 km.
Karena waktu itu belum ada bus, sudah jelas Bunda Maria dan Bapak Yosef jalan kaki. Jalan kaki!
Hm, kemarin teman-teman yang pilgrimasi jalan kaki Loyola-Navarette setiap harinya rata-rata jalan 20km. Jadi, kurang lebih dulu Bunda Maria dan Bapak Yosef jalan kaki semingguan dong yah. Ya, Bunda Maria-nya naik keledai sih. Tapi, naik keledainya juga gak bisa kayak Zorro kan naiknya. Lagi hamil tua, bok.
Ya ampun,
kalo sampe saya punya suami yang ngajak saya pulang kampung model begitu,
bukan surat cerai yang melayang, tapi mata sinetron pasti saya pasang. *JENG*JENG*
Kebayang gak sih, perjalanan itu kayak apa sulitnya?
Jauh,
jalannya gak mulus (denger-denger pilihannya itu naik turun Gunung Karmel atau muter lewat pinggiran Sungai Yordan),
dalam keadaan hamil tua pulak. Naik pesawat ajah trimester ketiga udah dilarang-larang.
Ini jalan kaki. Kalo temen saya yang prom queen SMAK1 itu pasti bilang, “Udah gila kali.”
Gila memang.
Tapi, buat saya kebayang juga perasaan-perasaan dan pengalaman-pengalaman yang menguatkan Bunda Maria dan Bapak Yosef.
Sebagai seorang yang mencintai perjalanan,
saya paham betul bahwa kita dapat benar-benar mengenal seseorang dengan bepergian bersama.
Kita juga bisa tahu seberapa jauh kita kompatibel sama mereka. Orang saya sampe punya cita-cita, kalau nanti punya calon suami harus dites dulu keliling Indonesia :P
Ada banyak hal yang bisa kita bagi dengan teman seperjalanan kita.
Buat Bunda Maria dan Santo Yosef dulu,
mungkin bukan cuma berbagi semangat atau suap-suapan bekal,
tapi juga berbagi harapan yang sama, yaitu kelahiran anak pertama mereka.
It warms my heart to think they both sat beside the fire and laid on their backs somewhere in the Jordanian wilderness, staring at the sky and talked about how their life would change once the baby is born.
Bukan sembarang anak bahkan. Yesus, man.
Betapapun keberadaan Yesus sebagai juru selamat dunia diperdebatkan, sulit untuk meragukan bahwa Yesus adalah pribadi yang luar biasa hebat. This man told you (and did it Himself) to love your enemy. Like.. Um… That’s hard.
Udah gitu,
sampai di Betlehem permasalahan belum selesai. Gak dapat penginapan!
Brekele. Masih untung dapat ijin berlindung di sebuah kandang ternak.
Nah,
kalau selama beberapa minggu persiapan Natal ini
saya dan atau kamu merasa terjebak dalam permasalahan yang gak ada habisnya,
tersedak pahitnya hidup,
kerjaan yang terus menerus ditumpuk di meja kerja,
kegagalan yang mengambang,
penderitaan yang bikin mata bengkak karena nangis,
drama hubungan yang serba gak jelas,
saya cuma bisa bilang, “Ya iya lah! Siapa bilang perjalanan menuju Natal itu sudah pasti senang-senang. Dari jaman kelahiran Yesus beneran masih dalam penantian ajah, Bunda Maria sama Bapak Yosef udah ‘berakit-rakit ke hulu, bersenang-senang kemudian’.”
Dan saya jadi kepikiran, apakah sepanjang persiapan Natal ini saya sudah bersyukur atas hal-hal manis yang ada?
Bersyukur untuk sahabat-sahabat dan keluarga yang menjadi teman berbagi kesulitan, seperti halnya saat itu Bunda Maria dan Bapak Yosef berterima kasih untuk kehadiran satu sama lain;
atau
bersyukur untuk setiap kebaikan hati yang saya terima dari orang lain, seperti halnya waktu itu Bapak Yosef dan Bunda Maria lega mendapat pinjaman kandang ternak untuk istirahat.
Bersyukur karena, entah apa dan bagaimana bentuknya, saya masih bisa merayakan Natal,
seperti halnya Bunda Maria dan Bapak Yosef dulu bisa tetap berbahagia luar biasa menyambut kelahiran Yesus. Meski harus jauh-jauh ke Betlehem, capek-capek, dan ribet banget. Mungkin juga gak berjalan sesuai rencana mereka, sesuai mau mereka (ya gimana ya, dari awal mengandung dan melahirkan Yesus itu bukan rencana mereka, tapi lebih karena rencana Yang Di Atas kan).
Jadi,
dalam rangka bersyukur atas semua yang terjadi sampai pada hari ini,
saya ingin mengucapkan dengan tulus hati,
tanpa pretensi dan di luar agenda ceramah,
“Selamat merayakan masa yang bikin senyum-senyum.
Selamat makan enak *bagi dooooong*,
Selamat berbagi waktu dengan orang-orang yang dikasihi,
Selamat belanja diskon akhir tahun yang ciamik,
Selamat buat yang dapet topik buat sms gebetan,
Selamat menggali makna Natal yang mendalam,
Selamat membuka hati untuk melihat keajaiban Natal yang sudah kita terima,
Selamat merayakan ulang tahun Tuhan Yesus!”
And I hope this doesn’t sound cliche :
please do have yourself a merry little Christmas. :-)
Peluk hangat,
Melita.
P.S Tuhan berkati. :) :) :) :) :)
just a thought.
Dalam salah satu lakon teater,
dinyanyikan sepotong sajak,
Mencintai sama dengan memberi dan meminta bukan hakikat cinta.”
Maka,
apabila kita mencintai Tuhan,
dapatkah kita meminta kepadanya?
Maybe.
I kept on questioning,
what is my mission here on earth.
What is it that I am set to do that the Universe has been keeping me alive up to this day.
Why does the story of the world captivated my thoughts
and I just can’t stop thinking about the people.
The episodic melancholy worrying about humanity;
love, care, empathy, compassion, peace
over matters like race, ethnic, sex, gender, money, religion, country, intellect, sexuality, psychological state;
all things.. without borders.
What card should I play out next?
Should I jump into the next mission offered on the table? Any mission?
What should be my next move?
Should I wait or should I charge right away? Before I lost the momentum?
I need inspiration.
The so-called enlightenment.
I need to be brave.
To seek for the answers.
Will I ever be that bold?
Do I have what it takes?
Am I smart enough?
Am I capable enough?
Can I stand the pressure?
Can I stand the hearthache?
How tough will I be facing the challenge?
How much will I sacrifice?
Do I have the guts to bite the bullet?
I kept on questioning.
Sometimes I feel like I’ve found the answers.
But life always comes back with more questions.
The questions are never ending, but my time here will end someday. Who knows when.
Pardon my dilemma. My romanticism.
Don’t pity me. I am enjoying this.
To get lost in this very thought,
to seek (and sometimes find) the answers within my day to day life. Within you. And You.
The Universe holds the key to all of our wonders. To the question lingers in the depth of your soul.
I truly believe that.
And I hope,
when the Universe offers us the opportunity to walk on the path leading to the key,
we are brave enough to take the chance.
We may never reach the end of the path the way we wanted,
but I guess, it will be okay. Maybe we are not destined to ‘complete’. Maybe we just have to live. Maybe it is our mission. To live.
We all complete. Maybe none of us really understand what we’ve lived through, or feel we’ve had enough time.
(Kathy, Never Let Me Go)
colliding thoughts.
Ted and Robin, bar scene, How I Met Your Mother
Ted : And more importantly, she makes me feel needed.
Robin : Needed? She makes training wheels feel needed.
Ted : Hey, it’s nice to feel needed. And you know what? It’s not a feeling guys get when they’re with you.
Robin and Barney, at the doorstep of Barney’s apartment, How I Met Your Mother
Robin : Hey. Um, when we were dating, did… Did I make you feel needed?
Barney : No, I didn’t feel like you needed me at all.
Robin : That’s what I thought. Uh, I’m sorry.
Barney : Wait, where are you… That’s a compliment. You are the least needy woman I’ve ever met... That’s awesome. I mean, no guy’s gonna say. “Who’s your daddy?” to Robin Scherbatsky. You’re your own daddy. And mommy. And weird survivalist uncle who lives in a cabin with a shotgun blaming stuff on the government. And that is what makes you the most amazing, strong, independent woman I’ve ever banged.
Anais Nin, on ‘being picky’
“I, with a deeper instinct, choose a man who compels my strength, who makes enormous demands on me, who does not doubt my courage or my toughness, who does not believe me naive or innocent, who has the courage to treat me like a woman.”
Kartini, on making changes.
Kami hendak berhubungan dengan kaum laki-laki bangsa kami yang terpelajar, yang suka akan kemajuan; hendak berusaha bersahabat dengan mereka dan selain itu mencoba mendapat bantuannya. Bukan orang laki-laki yang kami lawan, melainkan pendapat kolot yang turun temurun, adat yang tidak terpakai lagi bagi tanah Jawa kami masa depan. Dari Jawa Baru ini beberapa orang lain, baik laki-laki maupun perempuan, bersama-sama kami merupakan pelopor.
Widha, on marrying a man
…sesungguhnya aku tidak menginginkan laki-laki yang bertugas secara seremonial: mencari nafkah, pergi pagi-pulang malam, menjaga istri dan anak-anak, menambal genteng bocor, dan berkeluh kesah tentang harga motor atau cicilan rumah yang makin lama makin menanjak harganya.
…aku ingin menikahi seorang laki-laki beserta pemikirannya, yang mengerti tentang cita-cita dan mimpi-mimpiku. mimpi-mimpi, yang aku sendiri tidak yakin dapat mewujudkannya…
mendoakan keselamatanmu.
Sejak kecil,
saya telah terbiasa dengan perpisahan. Kedua orang tua saya bekerja dan seringkali bepergian meninggalkan kami, anak-anaknya, di rumah. Kadang hanya untuk satu dua hari, tidak jarang juga seminggu dua minggu. Pernah juga ditinggal beberapa bulan. Tidak terlalu berbeda rasanya. Dan karena mereka selalu kembali, bagi saya perpisahan selalu bersifat sementara.
Semakin dewasa,
menjadi asing bagi saya untuk mengkhawatirkan orang yang akan bepergian. Tentu mengucap, “Selamat jalan!” ditambah “Hati-hati!” setiap kali akan berpisah dengan orang-orang yang akan melakukan perjalanan. Tapi, terus terang, saya jarang sekali benar-benar cemas melepas kepergian seseorang. Pun kalau orang mencemaskan kepergian saya, saya merasa agak aneh.
Percakapan tipikal saya dan Si Ibu.
Ibu : Kamu tuh, pulang malem terus. Naik kendaraan umum lagi. (Pernah disambung, “Udah cewek, cina lagi.” Nyeh.) Paling suka bikin orang tua khawatir.
Saya : Ibu percaya gak sih, Tuhan itu baik?
Ibu : Percaya.
Saya : Dan bahwa Tuhan punya rencana buat aku?
Ibu : Iya.
Saya : Kalau gitu, percayakanlah aku sama Dia.
Nah,
akhir-akhir ini,
saya mulai belajar untuk mengkhawatirkan perpisahan dengan seseorang. Mungkin karena memang sudah waktunya bagi saya untuk lebih sering merelakan orang-orang pergi untuk menjalani misinya masing-masing.
Ke luar kota,
ke luar negeri,
ke luar dari bagian hidupku sehari-harinya.
Dengan bertambahnya usia,
dan semakin terbukanya tantangan untuk mengambil peran dalam hidup,
saya semakin sering berjumpa dengan perpisahan.
Perpisahan yang kadang sulit kupastikan bersifat sementara atau tidak.
Ya, saya belajar,
seperti halnya St.Ignasius dari Loyola pernah belajar untuk merelakan sahabatnya sendiri (salah satu ‘taklukan’nya yang pertama dan paling sulit loh!) untuk pergi berkarya di India -dan kemudian meninggal di China tanpa sempat bertemu muka lagi.
Seperti halnya pula saya sejak dulu belajar untuk rela saja ditinggal orang tua bepergian. Kali ini bukan karena saya tahu mereka akan kembali (sebaliknya, saya semakin belajar untuk menerima bila orang-orang melanjutkan kehidupannya di tempat lain), melainkan karena saya paham mereka pergi untuk menjalankan misinya masing-masing (atau mungkin sekedar mengejar mimpi atau mungkin sekedar jalan-jalan jauh atau bisa juga sekedar pindah kerja).
Karena hidup terus berjalan. Dan perubahan, serta perpisahan, adalah bagian dari hidup.
Apapun itu,
hal terpenting yang saya pelajari dari perpisahan belakangan ini adalah tentang doa. Mungkin juga karena satu setengah tahun ini saya banyak mengevaluasi hubungan saya dengan Tuhan.
Doa dalam makna sesederhana berkomunikasi dari hati ke hati. Hey, kamu yang di sana, apa kabar? Sehat? Di sini aku mendoakan keselamatanmu. Kadang kukirimkan lewat perantara. Tuhan, itu yang satu itu, saya titip ya! Sampaikan salamku.
Maka,
untuk semua yang kukenal (pun akan kukenal!),
yang sedang menjalani misinya masing-masing,
aku mencintaimu,
itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu. (Dalam Doaku, Sapardi Djoko Damono)
Selamat jalan! Pergilah ke mana hati membawamu. Hati-hati! :)
P.S Temanku pernah bilang, “Kamu percaya kalau kita semua terhubung satu sama lain? Maka pada saat kamu berdoa untuk seseorang, orang tersebut pasti dapat merasakannya.” Semoga di sana, kamu merasakannya :)